EKSTRAKSI DEM/DSM DARI CITRA ASTER L1B, sebuah pengalaman……

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Calibri; mso-font-alt:”Century Gothic”; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>

Beberapa minggu yang lalu saya mendapat kesempatan untuk belajar ekstraksi DSM (digital surface model) dari citra ASTER stereo, karena teman saya meminta bantuan untuk pengerjaan skripsinya yang menggunakan ASTER DEM untuk analisis BTS. Software yang digunakan adalah Ortho Engine 9.00 dari PCI Geomatica versi 9.00. Citra yang digunakan adalah Citra ASTER L1B format EOS-HDF dengan daerah liputan adalah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang direkam pada bulan Mei 2003. Karakteristik citranya adalah hampir bebas awan untuk daerah daratan, sehingga sangat ideal untuk ekstraksi DEM. Selain itu waktu perekaman citra adalah pada bulan dimana matahari di utara khatulistiwa, sehingga ketika citra direkam, sudut datang sinat mataharinya rendah (iluminasinya maksimal untuk pembedaan aspek lereng dan identifikasi tie points/TPs).

Pemrosesan dilakukan melalui tahapan berikut:

 

Sumber titik kontrol tanah/GCPs dan titik cek/TPs berasal dari titik triangulasi BPN DIY dengan akurasi maksimal 1 meter. Untuk membantu identifikasi GCPs dan TPs, citra ASTER yang digunakan di-orthorektifikasi dulu dengan menggunakan beberapa titik kontrol BPN yang diketahui lokasi absolutnya di lapangan dan DEM SRTM. Uji akurasi citra ortho menggunakan data vector RBI. RMSEx,y yang diperoleh mencapai ½ piksel (< 7 meter).

GCP yang diperoleh sebanyak 40 titik (stereo GCP) dan TP sebanyak 55 titik yang dkumpulkan baik secara manual ataupun otomatis (menggunakan Ortho Engine Image Correlation algorithm). RMSex,y untuk GCP dan TP yang diperoleh adalah di bawah ½ piksel (<7 meter).

Hasil yang diperoleh adalah sebagaimana tampak pada gambar. Karena citra yang digunakan kualitasnya bagus (minim perawanan) maka DSM yang dihasilkan dapat maksimal (daerah error-nya sedikit). RMSEx,yang diperoleh sama dengan citra ortho (< 7 meter). Untuk menilai akurasi vertical/elevasi dari DSM, dilakukan Uji akurasi elevasi dengan menggunakan sisa titik kontrol BPN yang tidak digunakan sebagai GCP dan TP sebanyak 500 titik. RMSEz yang diperoleh adalah 19,1 meter (memenuhi standar pemetaan skala 1:100.000).

 

 

 

4 thoughts on “EKSTRAKSI DEM/DSM DARI CITRA ASTER L1B, sebuah pengalaman……

  1. ema says:

    untuk skala maksimum yg bisa didapat dari peta aster stereo berapa y??
    interval kontur dari peta tersebut berapa y..
    lalu akurasi vertikal nya brp m?

    • pixelcooker says:

      1. kalo melihat pada resolusi spasial maksimal yang bisa dihasilkan (yaitu 15 meter), maka skala terbaik adalah sekitar 1:50.000 – 1:100.000 (mengacu pada Buku Remote Sensing :Digital Image Analysis oleh John A Richards)

      2. Dengan resolusi spasial 15 meter, kontur sebaiknya tidak lebih detil daripada 25 meter,

      3. Kalau untuk akurasi vertikal, berarti kita ngomongin DEM dengan elevasi absolut, akurasi akan sangat tergantung oleh banyak faktor, misalnya:
      a. Kualitas dan akurasi GCP dan TP yang digunakan (kualitas disini meliputi jumlah, sebaran, dan akurasi GCP itu sendiri)
      b. Level pemrosesan citra ASTER, (Level 1A dan 1B tentu akan memberikan hasil yang berbeda karena ada perbedaan informasi akibat proses resampling pada dua produk tersebut)
      c. Topografi dominan, akurasi pada daerah bertopografi datar dan berbukit/bergunung akan berbeda, sehingga sulit untuk digeneralisir akurasinya pada daerah dengan topografi kompleks

      intinya, banyak faktor yang berpengaruh terhadap akurasi output, banyak paper yang pernah membahas tentang akurasi vertikal dari aster ini, ada yang mencapai 5 meter, 7 meter, 10 meter, dan yang paling buruk 50 meter (sejauh yang saya tahu), semua kembali pada faktor2 diatas

      terimakasih sudah berkunjung😀

  2. ady geodesi says:

    bisa minta materi/bahan tentang citra aster gak, kalo bisa krimkan ke emailq
    ahmad_tri_adiyadma@ymail.com
    please

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s